RSS

Kemenangan outbond SD Al-Falah Tropodo 2

Tgl 18 Desember 2010, SD Al-Falah Tropodo 2 outbond di Pandaan, Alhamdulillah kita dapat juara 3 SD Surabaya.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 20, 2010 in Uncategorized

 

Sumber Daya Alam

Anak-anak luar biasa baru tahu aku, klo bulu babi…???

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 12, 2010 in Uncategorized

 

Belajarku

Posting ini tidak wajib dibaca atau dikomentari. Hanya catatan kecil seputar tutorial belajar WordPress.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 3, 2008 in santai

 

kamis, 31 yang membosankan…!!!

Berangkat dari kantor, sebenrnya sangat antosias dan bersemanggat, tetapi apa yang terjadi? Hanya masalah kecil mut jadi ilang beberapa menit aja.

pelajaran buat kita Tata hati kita dulu untuk senantiasa YAKIN pada tujuan kita.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Juli 31, 2008 in diary

 

Tag:

Merajut Benang Merah Kurikulum Indonesia

 

 

            Sejenak kita melihat sejarah perkembangan kurikulum pendidikan kita yang mengalami perubahan, yaitu pada tahun 1964, 1968, 1975, 1984, 1994, 2004 dan yang sedang berlangsung saat ini KTSP. Menjelang tahu 1964 pemerintah menyempurnakan kurikulum di Indonesia. Pokok-pokok pikiran kurikulum di atas 1964 menjadi ciri dari kurikulum ini adalah bahwa pemerintah mempunyai keinginan agar rakyat mendapat pengetahuan akademik untuk pembelajaran pada jenjang SD sehingga pembelajaran dipusatkan pada program Pancawardhana (Hamalik, 2004), yaitu pengembangan moral, kecerdasan, emosinal/artistik, keprigelan, dan jasmani. Kurikulum 1968 merupakan pembaharuan dari kurikulum 1964, yaitu dilakukannya perubahan struktur kurikulum pendidikan dari Pancawardhana menjadi pembinaan jiwa pancasila, pengetahuan dasar, dan kecakapan khusus. Kurikulum 1968 merupakan perwujudan dari perubahan orientasi pada pelaksanaan UUD 1945 secara murni dan konsekuen. Dari segi tujuan pendidikan, kurikulum 1968 bertujuan bahwa pendidikan ditekankan pada upaya untuk membentuk manusia pancasila sejati, kuat, dan sehat jasmani. Selain itu juga bertujuan untuk mempertinggi kecerdasan keterampilan jasmani, moral, budi pekerti, dan keyakinan beragama. Lahirlah kurikulum 1968, sebuah pedoman praktis pendidikan yang terstuktur pertama kali (Cony Semiawan, 1980).

            Kurikulum 1975 sebagai pengganti kurikulum 1968 berorientasi pada tujuan. Menganut pendekatan sistem instruksional yang dikenal dengan Proseder Pengembangan (PPSI).  Pada awal tahun 1972-1973 pemerintah memperkenalkan inovasi baru yang berasal dari Amerika Serikat yaitu sistem belajar dengan modul hal ini di aplikasikan pada Proyek Perintis Sekolah Pembangunan (PPSP) yang rencananya sebagai penganti kurikulum 1975. Mungkin, banyak orang belum mengenal apa itu PPSP. PPSP adalah model pembelajaran yang diterapkan di delapan IKIP di Indonesia dengan tujuan belajar mandiri, maju berkelanjutan (continuous progress), dan belajar tuntas (mastery learning). Model pembelajaran ini menggunakan modul. Yakni salah satu bentuk paket belajar yang bersifat self-interaction dengan penekanan pembelajaran secara individu. Di samping itu, dikembangkan berbagai uji coba melalui apresiasi atas kegiatan yayasan swasta. Salah satu contoh nyata adalah adanya tokoh-tokoh perintis semacam Ibu Pakasi dari Malang dengan sistem modul, atau sekolah – sekolah pembangunan (PPSP) menghasilkan lulusan yang berorientasi pada kerja, begitu juga dengan sistem uji coba cara belajar siswa aktif siswa aktif (CBSA) di Cianjur.

            Atas dasar perkembangan itu, menjelang tahun 1983 kebutuhan atau tuntutan masyarakat dan ilmu pengetahuan/teknologi terhadap pendidikan kurikulum 1975 dianggap tidak sesuai lagi. Untuk itu, diperkenalkan kurikulum 1984 sebagai perbaikan atau revisi terhadap kurikulum 1975. Kurikulum 1984 berorientasi pada tujuan instruksional. Kurikulum ini beda berdasar pandangan bahwa pemberian pengalaman belajar kepada siswa dalam waktu belajar yang sangat terbatas di sekolah harus benar-benar fungsional dan efektif. Oleh karena itu, sebelum memilih atau menentukan bahan ajar, yang pertama harus dirumuskan adalah tujuan apa yang harus dicapai siswa. Pendekatan pembelajaran berpusat pada anak didik melalui cara belajar siswa aktif (CBSA). CBSA adalah pendekatan pengajaran yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif terlibat secar fisik, mental, intelektual, dan emosional dengan harapan siswa memperoleh pengalaman belajar secara maksimal, baik dalam ranah kognitif, afektif, maupun psikomotor. Materi pelajaran dikemas dengan menggunakan pendekatan spiral. Spiral adalah pendekatan yang digunakan dalam pengemasan bahan ajar berdasarkan kedalaman dan keluasan materi pelajaran. Semakin tinggi kelas dan jenjang sekolah, semakin dalam dan luas materi pelajaran yang diberikan. Pada kurikulum ini menekankan pendekatan keterampilan proses. Ketrampilan proses adalah pendekatan belajar mengajar yang memberi tekanan kepada proses pembentukan memperoleh pengetahuan dan mengomunikasikan perolehannya. Pendekatan ketrampilan proses diupayakan dilakukan secara efektif dan efisien dalam mencapai tujuan pembelajaran. Kurikulum 1984 dianggap sanggat terlalu banyak sarat, lantas muncul kurikulum 1994 yang lebih sederhana.

            Pada kurikulum 1984, proses pembelajaran menekankan pada pola pengajaran yang berorientasi pada teori belajar mengajar dengan kurang memerhatikan muatan isi pelajaran. Kurikulum 1994 dibuat sebagai penyempurna kurikulum 1984 dan dilaksanakan sesuai dengan Undang-Undang no. 2 tahun 1989 tentang sistem pendidikan nasional. Hal ini berdampak pada sistem pembagian waktu belajar, yaitu dengan mengubah dari sistem semester ke sistem caturwulan. Selama dilaksanakan kurikulum 1994 muncul beberapa permasalahan, terutama sebagai akibat kecenderungan kepada pendekatan penguasaan materi (content oriented). Di antaranya beban belajar siswa terlalu berat karena banyaknya mata pelajaran dan banyaknya materi/substansi setiap mata pelajaran. Materi pelajaran dianggap terlalu sukar karena kurang relevan dengan tingkat perkembangan berfikir siswa dan bermakna karena terkait dengan aplikasi kehidupan sehari-hari. Permasalahan diatas mendorong para pembuat kebijakan untuk menyempurnakan kurikulum tersebut. Salah satu upaya penyempurnaan diberlakukannya Suplemen Kurikulum 1994. Namun perjalanan kurikulum 1994 dirasakan belum mampu menjawab perkembangan zaman yang begitu mengglobal. Maka lahirlah kurikulum berbasis kompetensi atau dikenal dengan KBK pada 2004. Kewajiban pemerintah menggunakan KBK didasarkan pada PP 25/2000 tentang pembagian kewenangan pusat dan daerah (Depdiknas 2003). Coba kita tengok kembali agar pemerintah tidak mengulang kesalahan yang sama, sebenarnya pada kurikulum 2004 identik atau memiliki kesamaan dengan sistem belajar pada modul (PPSP) yaitu sebagai berikut (Depdiknas, 2003; Depdiknas, 2002; Nur, 2004):

no

Kurikulum 2004

Modul PPSP

1

 

 

 

 

 

 

2

 

 

 

3

 

 

 

 

 

4

 

 

 

 

 

5

 

 

 

 

 

 

 

6

Tujuan pendidikan nasional yaitu membentuk manusia utuh yang mencakup pengetahuan, kecakapan, kemandirian, kreatifitas, kesehatan, akhlak, ketaqwaan dan kewarganegaraan.

 

Tujuan kurikuler pada kurikulum 2004 adalah mengembangkan koqnitif, afektif, dan psikomotor.

 

Mengembangkan keterampilan berfikit siswa untuk lebih mandiri, berbuat aktif, kritis, kreatif, dan inofatif serta memecahkan masalah.

 

Proses kegiatan belajar mengajar mengembangkan kreatifitas peserta didik, menciptakan kondisi yang menyenagkan, menantang, dan kegiatan belajar mengajar berpusat pada anak.

 

Dealam pencapaian kompetensi dasar dikembangkan melalui pemilihan strategi pembelajaran yang meliputi pembelajaran tatap muka dan pengalam a belajar. Dengan diberi academic skill (kecakapan akademik) dan vocational skill (kecakapan vokasional/ keguruhan).

 

Standar keberhasilan siswa adalah 75%

 

 

Sama dengan tujuan  pada PPSP membentuk manusia utuh.

 

 

 

 

 

Tujuan kurikuler PPSP juga mengembangkan koqnitif, afektif, dan psikomotor.

 

Mengembangkan keterampilan berfikir siswa untuk lebih aktif, kreatif, dan memcahkan masalah.

 

 

Proses kegiatan belajar mengajar dengan modul bersifat self-instruction yang berpusat pada anak.

 

 

 

Struktur kurikulum PPSP memiliki dua inti penekanan pada akademik dan progama pilihan penekanan pada jalur vokasional.

 

 

 

 

 

Dalam modul diterapkan belajar tuntas yaitu standar keberhasilan yang dicapai siswa adalah 75% dikatakan berhasil apabila kurang dari 75% diberikan modul remidi.

 

 

            Dari panorama diatas, menunjukan fenomena  pendidikan negeri ini tidak perna habis dimakan waktu untuk ”uji coba”. Kebijakan dan kebijaksanaan gampang berubah. Kurikulum seharusnya tidak gampang berubah. Seharusnya pemerintah selalu belajar dari  pengalaman atau sejarah perkembangan kurikulum pendidikan kita. Kita lihat dalam pergantian kurikulum memerlukan waktu, tenaga, dan biaya yang besar yang dikeluarkan pemerintah dalam melakukan penataran guru se-Indonesia. Ke depan, yang perlu dilakukan bukanlah utak-atik kurikulum, melainkan pemikiran serius seperti yang perna terjadi pada tahu 70-an. Arahnya adalah pendidikan yang berfokus pada anak didik, tanpa mengesampingkan perkembangan global yang terjadi dengan tetap tidak meninggalkan keterampilan bekerja sekaligus berakhlak. Untuk itu pemerintah harus lebih berhati hati dalam perencanaan kurikulum yang akan datang, saya yakin jika kultur pendidikan kita seperti ini jangan-jangan bangsa dan negri ini semakin tertinggal jauh dari Vietnam, Afrika, apalagi Singapura dan Malaysia.

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Juni 23, 2008 in pendidikan

 
 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.